Senin, 26 April 2010

dear deary

oh Tuhan, aku telah menyakiti anak manusia karena egoisku. aku sadar akan mendapatkan karmaphalaku nantinya. ah..bukan-bukan, sekarang aku telah mendapatkannya..
ketika aku menemukan seseorang yang aku sayang, aku juga harus melepaskannya. sungguh karmapala yang pantas untukku. Ya.. kisah cintaku dengan kak angga tak semulus yang di bayangkan, aku mungkin hanya bisa diam, menerima nasibku. hmm. walau berat tapi apa mau dikata. aku tak mau membuat keduanya terluka. sejujurnya, aku menyayangi kak angga. seolah, mimpi bisa ada di dekatnya, di dekapnya, dibelainya, diciumnya.. jantungku seolah entah ada dimana. namun dibalik kebahagian itu, aku menyembunyikan rasa bersalah dan rasa takut yang tak bisa ku ungkapkan.. hah.. apa yang harus kulakukan Tuhan. aku ingin sekali memiliki kak angga, namun aku tak boleh egois, aku harus menerima, kalau ini hanyalah mimpi yang esok hari akan terbangun juga.

Kamis, 08 April 2010

hm.. hari nie aku sebel sekali! orang yang ku suka diambil ma temenku sendiri.. nyebelin!!!! sebel!! ya, namanya aja hidup.. susah ditebak. heran deh, jadi orang ganjen banget ya.. uda punya 2 cowo pula, masi aja ngembat punya temen ndiri. halo!! maruk bgt low!

Kamis, 14 Januari 2010

2.1 Pengertian Derivasional
Menurut Suparman(1979), derivasional merupakan proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya berbagai macam bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut berubah kelas katanya dari kata dasarnya. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Clark(1981).
Namun ada juga yang menyatakan derivasional adalah kontruksi yang berbeda distribusinya dari dasarnya. Pendapat ini d kemukakan oleh Samsuri(1980).
Dari kedua pendapat tersebut bisa kita simpulkan bahwa derivasinal merupakan proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan suatu bentukan berubah kelas katanya dari kata dasar

2.2 Afiks-afiks Dalam Derivasional
Ada dua afiks dalam derivasional. Berikut akan kami jelaskan afiks-afiks tersebut satu persatu.
2.2.1 Afiks Formator Derivasional
Afiks formator derivasional adalah afiks-afiks yang membentuk kata, yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya mengubah kata. Beberapa contoh afiks formator derivasional :
a) meN- digabungkan dengan kata benda
misalnya: - meN- + sapu = menyapu(kata kerja)
b) ber- digabungkan dengan kata benda
misalnya: - ber- + sepeda = bersepeda(kata kerja)
c) per- digabungkan kata sifat
misalnya: - per- + panjang = perpanjang(kata kerja)
d) peN- digabungkan dengan
a) kata kerja
misalnya: - peN- + jilat = penjilat(kata benda)
b) kata sifat
misalnya: - peN- + nikmat = penikmat(kata benda)
e) ke- digabungkan dengan kata sifat
misalnya: - ke- + tua = ketua(kata benda)
f) -i digabungkan dengan kata sifat
misalnya: - saying + -I = sayangi(kata kerja)
g) -kan digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - gunting + -kan = guntingkan(kata kerja)
b) kata sifat
misalnya: - mulia + -kan = muliakan(kata kerja)
h) -an digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - makan + -an = makanan(kata benda)

2.2.2 Afiks Majemuk Derivasional
Afiks majemuk derivasional adalah konfiks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata, yaitu konfiks atau imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya mengubah kelas kata. Beberapa afiks majemuk derivasional :
a) ke-an digabungkan dengan kata sifat
misalnya: - putih + ke-an = keputihan(kata benda)
b) per-an digabungkan dengan
a) kata kerja
misalnya: - tunjuk + per-an = pertunjukan(kata benda)
b) kata sifat
misalnya: - panjang + per-an = perpanjangan(kata benda)
c) peN-an digabungkan dengan
a) kata kerja
misalnya: - turun + peN-an = penurunan(kata benda)
b) kata sifat
misalnya: - bulat + peN-an = pembulatan(kata benda)
d) meN-kan digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - buku + meN-kan = membukukan(kata kerja)
b) kata sifat
misalnya: - dekat + meN-kan = mendekatkan(kata kerja)
c) kata bilangan
misalnya: - satu + meN-kan = menyatukan(kata kerja)
e) meN-i digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - bulu + meN-i = membului(kata kerja)
b) kata sifat
misalnya: - dekat + meN-i = mendekati(kata kerja)
c) kata keterangan
misalnya: - sudah + meN-i = menyudahi(kata kerja)
f) memper- digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - memper- + budak = memperbudak(kata kerja)
b) kata sifat
misalnya: - memper- + indah = memperindah(kata kerja)
g) memper-kan digabungkan dengan kata sifat
misalnya: - dekat + memper-kan = memperdekatkan(kata kerja)
h) memper-i digabungkan dengan kata sifat
misalnya: - baik + memper-i = memperbaiki(kata kerja)
i) ter-kan digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - gambar + ter-kan = tergambarkan
b) kata sifat
misalnya: - lupa + ter-kan = terlupakan
j) ter-i digabungklan dengan
a) kata benda
misalnya: - gambar + ter-i = tergambari
b) kata sifat
misalnya: - dekat + ter-i = terdekati
k) ber-kan digabungkan dengan kata benda
misalnya: - senjata + ber-kan = bersenjatakan
l) di-kan digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - gambar + di-kan = digambarkan
b) kata sifat
misalnya: - hilang + di-kan = dihilangkan
m) di-i digabungkan dengan
a) kata benda
misalnya: - hadiah + di-I = dihadiahi
b) kata sifat
misalnya: - habis + di-i = dihabisi

2.3 Pengertian Infleksional
Dalam infleksional ada pendapat. Pendapat pertama dikemukakan oleh Samsuri(1980), beliau menyatakan infleksional adalah kontruksi yang menduduki distribusi yang sama dengan dasarnya.
Namun menurut Clark(1981) infleksional merupakan proses morfologis karena afiksasi yang menyebabkan terbentuknya bebagai bentukan dengan ketentuan bahwa bentukan tersebut tetap dalam kelas kata sama.
Disini bisa kita simpulkan bahwa infleksional merupakan proses morfologis dimana afiksasi yang menyebabkan terbentuknya berbagai bentukan dimana bentukan tersebut tetap sama dengan kata dasarnya.
2.4 Afiks- afiks Dalam Infleksional
2.4.1 Afiks Formator Infleksional
Afiks formator adalah afiks-afiks yang membentuk kata, yaitu afiks-afiks pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kata. Afiks- afiks formator infleksional antara lain :

a) meN- digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - meN- + karang = mengarang(kata kerja)
b) ber- digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - ber- + main = bermain(kata kerja)
c) ter- digabungkan dengan
1) kata kerja
misalnya: - ter- + angkat = terangkat(kata kerja)
2) kata sifat
misalnya: - ter- + indah = terindah(kata sifat)
d) peN- digabungkan dengan kata benda
misalnya: - peN- + sapu = penyapu(kata benda)
e) di- digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - di- + tikam= ditikam(kata kerja)
f) -i digabbungkan dengan kata kerja
misalnya: - tulis + -i = tulisi(kata kerja)
g) -kan digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - ambil + -kan = ambilkan(kata kerja)
h) -an digabungkan dengan kata benda
misalnya: - laut + -an = lautan(kata benda)

2.4.2 Afiks Majemuk Infleksional

Afiks majemuk infleksional adalah konfiks maupun imbuhan gabung yang membentuk kata, yaitu konfiks dan imbuhan gabung pembentuk kata yang sifatnya tidak mengubah kelas kata. Berikut adalah beberapa contoh afiks mejemuk infleksional.

a) ke-an digabungkan dengan kata benda
misalnya: - sultan + ke-an= kesulatanan(kata benda)
b) per-an digabungkan dengan kata benda
misalnya: - rumah + per-an= perumahan(kata benda)
c) ber-an digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - lari + ber-an= berlarian(kata kerja)
d) peN-an digabungkan dengan kata benda
misalnya: - nama + peN-an = penamaan(kata benda)
e) meN-kan digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - kerja + meN-an = mengerjakan(kata kerja)
f) meN-i digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - cabut + meN-I = mencabuti(kata kerja)
g) memper-kan digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - kerja + meper-kan = memperkerjakan(kata kerja)
h) ter-kan digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - guling + ter-kan = tergulingkan(kata kerja)
i) ter-i digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - hinggap + ter-i = terhinggapi(kata kerja)
j) di-kan digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - lempar + di-kan = dilemparkan(kata kerja)
k) di-i digabungkan dengan kata kerja
misalnya: - pukul + di-i = dipukuli(kata kerja)

Daftar Pustaka

Ramlan, M.(1985).Morfologi Sebagai Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV.Karyono.
Putrayasa, I.B. (2008). Kajian Morfolgi. Bandung: PT Refika Aditama.
Samsuri, (1988). Morfologi dan Pembentukan Kata. Jakarta: Depdikbud
Clark, V.P. (1981). Language. New York: St. Martin’s Press.

Reduplikasi

2.1.Pengertian Kata Ulang (Reduplikasi).
Reduplikasi merupakan peristiwa pembentukan kata melalui pengulangan bentuk dasar baik keseluruhan maupun sebagian, baik berkombinasi dengan afiks maupun tidak, baik bervariasi fonem maupun tidak.

2.2.Prinsip-Prinsip Penetuan Kata Ulang
a.Kelas kata bentuk dasar kata ulang sama dengan kelas kata kata ulangnya.
Berdasarkan ciri ini, dapatlah dikemukakan bahwa aoabila suatu kata ulang berkelas kata benda bentuk dasarnya berkelas kata benda, begitu juga kelas kata yang lain. Contoh :
Kata ulang Bentuk dasarnya
Gedung – gedung ( KB)
Membaca – baca (KK)
Pelan – pelan (KS) Gedung (KB)
Membaca (KK)
Pelan (KS)


Beberapa kata semacam leluhur, pepatah, sesame. Selama ini dikenal sebagai kata ulang. Jika kata – kata tersebut disikapi dari ciri pertama maka kata – kata tersebut tidak termasuk kata ulang.

Contoh: leluhur bisa berarti nenek moyang, jadi kelas katanya adalah kata benda. Bentuk dasarnya adalah luhur yang jelas berkelas kata sifat. Oleh sebab itu leluhur tidak termasuk kata ulang karena bentuk kata ulang tidak memiliki kelas kata yang sama dengan bentuk dasarnya,begitu pula dengan kata pepatah dan sesama.
b.Bentuk dasar kata ulang biasa digunakan dalam Bahasa Indonesia.
Sebagaimana pada kata ulangnya, bentuk dasarnya pun ada dalam pemakaian bahasa. Maksud dalam pemakaian bahasa adalah dapat dipakai dalam konteks kalimat. Berdasarkan ciri kedua ini beberapa contoh kata ulang beserta bentuk dasarnya sebagai berikut:
Kata ulang Bentuk dasarnya
Melaku – lakukan
Menyatu - nyatukan
Melari – larikan
Melakukan, bukan melaku
Menyatukan bukan menyatu
Melarikan bukan melari atau larikan

Kata mondar – mandir, pontang – panting, compang – camping, kocar – kacir, sulit untuk diterima sebagai kata ulang. Sebab ditinjau dari ciri kedua ini tidak pernah ada kocar atau kacir saja didalam penggunakan bahasa Indonesia begitu pula dengan kata – kata yang lain.

c.Arti bentuk dasar kata ulang selalu berhubungan dengan kata ulangnya.
Berdasarkan ciri ini, jelaslah bahwa bentuk alun bukan merupakan bentuk dasar dari kata alun – alun,bentuk undang bukan merupakan bentuk dasar dari kata undang – undang dan masioh banyak lagi.Oleh sebab itu kata – kata tersebut bukan merupakan kata ulang.
Sedangkan yang bisa dikatakan kata ulang pada prisip ini adalah tetamu, pepohon, dedahan.

2.3.Macam-Macam Kata Ulang
Jenis pengulangan ini didasarkan pada bagaimana bentuk dasar kata ulang itu diulang. Berdasarkan hasil penelitian ternyata dalam bahasa Indonesia ada empat jenis pengulangan yaitu :
1. Pengulangan seluruh
2. Pengulangan sebagian
3. Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks.
4. Pengulangan dengan perubahan fonem.
1. Pengulangan seluruh
Yang dimaksud dengan pengulangan seluruh ialah pengulangan bentuk dasar secara keseluruhan, tanpa berkombinasi dengan pembubuhan afiks dan tanpa perubahan fonem.contoh :


Bentuk dasar Hasil pengulangan seluruh
Batu
Sembilan
Persatuan
Pembangunan
Batu – batu
Sembilan – sembilan
Persatuan – persatuan
Pembangunan - pembangunan


2. Pengulangan sebagaian
Pengulangan sebagian adalah pengulangan bentuk dasar secara sebagiantanpa perubahan fonem.contoh:
Bentuk dasar Hasil pengulangan sebagian
Memanggil
Berlari
Perlahan
Berkata
Minuman Memanggil – manggil
Berlari – lari
Perlahan – lahan
Berkata – kata
Minum – minuman


3.Pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks
Yang dimaksud dengan pengulangan yang berkombinasi dengan pembubuhan afiks ialah pengulangan bentuk dasar disertai dengan penambahan afiks secara bersama-sama dan bersama – sama pula mendukung satu arti.
Contoh:
Bentuk pengulangan dan pembubuhan afiks
Dasar + = hasil pengulangan
Rumah + ( pengulangan )- an rumah – rumahan
Kuning + ke – ( pengulangan)- an kekuning - kuningan
Baik + se – (pengulangan)- nya sebaik - baiknya



4.Pengulangan dengan perubahan fonem
Yang dimaksud dengan pengulangan dengan perubahan fonem ialah pengulangan bentuk dasar dengan disertai perubahan fonem. Pengulangan jenis ini sudah tidak produktif lagi dalam bahasa Indonesia akan tetapi, berdasarkan hasil perbandingan masih dapat dibuktikan bahwa pengulangan jenis ini memang ada dalam bahasa Indonesia. Misalnya kata ulang gerak - gerik. Telah diketahui bahwa kata ulang itu berbentuk dasar gerak setelah dibandingkan dengan bentuk – bentuk misalnya akan menggerakan, digerakkan, pergerakan, bergerak, dan penggerakan.

Disamping bentuk dasarnya diulang yaitu gerak, fonem/ a/ pada bentuk dasarnya diubah menjadi fonem /i / sehingga pengulangannya menjadi gerik.
Dalam bahasa indonesia ada dua macam model pengulangan perubahan fonem yaitu pengulangan fonem vokal dan pengulangan fonem konsonan. Contoh pengulangan den gan perubahan fonem vokal adalah bolak - balik dengan bentuk dasarnya balik, serba serbi dengan bentuk dasarnya serba dan robak - robek dengan bentuk dasarnya robek.
Contoh pengulangan dengan perubahan fonem konsonan ialah lauk - pauk dengan bentuk dasarnya lauk, ramah tamah bentuk dasarnya ramah dan beras petas dengan bentuk dasarnya beras.


DAFTAR PUSTAKA

Sutwijaya,Alam.Dkk.1996/1997.Morfologi Bahasa Indonesia.Jakarta:Depdiknas.
Muslich,Mansur.2008.Tata Bentuk Bahasa Indonesia.Jakarta:Bumi Aksara.

biografi samar gantang

I Gusti Putu Bawa Samar Gantang
“ Saya ingin menciptakan sejarah dan menjadi sejarah dalam sejarah”

RIWAYAT HIDUP I GUSTI PUTU BAWA SAMAR GANTANG, SEORANG SASTRAWAN DARI KOTA PELANGI (TABANAN)
Dalam esai ini kami akan menguraikan riwayat hidup seorang Samar Gantang. Menelusuri riwayat hidup seorang sastrawan dan seniman Tabanan yang menurut kami sangat berjasa bagi Kabupaten Tabanan. I Gusti Putu Bawa Samar Gantang adalah salah satu tokoh yang telah mengharumkan kabupaten Tabanan di dalam maupun luar negeri. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk menelitinya dan mencoba menelusuri. lebih jauh tentang riwayat hidup seorang Samar Gantang.
Untuk memudahkan para pembaca memahami biografi Samar Gantang, penulis membagi kisah Samar Gantang dalam empat sudut pandang yaitu dari sudut keluarganya, cintanya, karir dan prestasinya serta cita-cita dan obsesinya. Di bawah ini akan diuraikan sebagai berikut:
1. Keluarga I Gusti Putu Bawa Samar Gantang
Seorang sastrawan Tabanan bernama I Gusti Putu Bawa, anak dari I Gusti Gede Pegug (lahir tanggal 17 Januari 1928) dengan Gusti Ayu Nyoman Rerep (lahir tanggal 31 Desember 1930) dilahirkan pada tanggal 27 September 1949 di Tegal Belodan. Data ini didapat dari internet dan tertulis didalam ijasah beliau. Akan tetapi, beliau menyatakan kalau sebenarnya tahun kelahirannya yang benar adalah tahun 1948 bukan tahun 1949.
Julukan Samar Gantang ini pun diberikan kakeknya bernama Gusti Ketut Santrog (lahir tahun 1901). Alasan mengapa beliau diberikan julukan seperti itu karena sifat sastrawan sekaligus seniman ini yang begitu aktif. Sampai-sampai kakek beliau berkata, “Beh, jek sing dadi ngoyong, biin ngenah biin sing cara Samar Gantang! (Duh! Kok enggak bisa diam, lagi keliatan, lagi enggak, kayak Samar Gantang!)” Dari saat itulah pak Bawa dipanggil I Gusti Putu Bawa dengan ‘embel-embel’ Samar Gantang di belakangnya. Dan sampai sekarang beliau pun lebih dikenal dengan nama tersebut. Atau bisa dikatakan kalau nama Samar Gantang merupakan nama ‘keren’ pak Gusti Bawa.
Darah seni yang mengalir dalam tubuh pak Bawa didapatnya dari Ayahanda, kakek, dan neneknya. Ayahandanya adalah seorang penari serba bisa, akan tetapi pada masa kependudukan Belanda ayahanda-beliau pun menjadi seorang tentara dan bergabung dalam tentara Gajah Merah NICA.
Ayahandanya tidak suka berpartai anti-politik. Sifatnya jujur, mencintai keluarga. Sifatnya yang menonjol suka blak-blakan kalau berbicara sesuatu. Barangkali hal ini yang membuat ayahandanya tak disukai orang-orang partai di kampung pak Bawa. Itulah sosok ayahanda Samar Gantang. Ayahannya meninggal tanggal 10 Desember 1967.
Ini adalah foto ibunda I Gusti Putu Bawa Samar Gantang yang sedang menjual bubur.
Kakeknya adalah seorang penabuh yang ternama. Dan neneknya yaitu Gusti Ayu Putu Rawuh (lahir tahun 1916) adalah seorang penari serba bisa. Serasilah mereka menjadi sepasang suami-istri. Sang suami yang memainkan musik dan sang istri yang menari. Sungguh sangat romantis. Kakek pak Putu Bawa sebenarnya sangat malu ketika mengetahui ayahanda pak Putu Bawa yaitu I Gusti Gede Pegug masuk dalam kemiliteran, apalagi dalam asuhan Belanda. Disini kakek beliau mengira kalau anaknya membantu Belanda dengan cara masuk menjadi tentara yang berbau Belanda walaupun dalam kenyataannya tak seperti itu. Nenek dan Kakek pak Bawa Samar Gantang yaitu Gusti Ayu Putu Rawuh meninggal tanggal 6 Agustus 1976 dilanjutkan I Gusti Ketut Santrog meninggal tanggal 21 maret 2000.
Kakek Samar Gantang yaitu Gusti Ketut Santrog (lahir tahun 1901)
Ayahanda beliau memiliki dua orang istri. Istri pertama merupakan ibu kandung beliau yaitu Gusti Ayu Nyoman Rerep, seorang pedagang bubur. Pak Bawa Samar Gantang adalah anak yang paling sulung. Drs. Gusti Made Nurjana, SA.Msi (tanggal lahir 5 Juli 1951) , anak kedua. Gusti Nyoman Dana Deska (tanggal lahir 12 Desember 1954), anak ketiga. Drs. I Gusti Nengah Nurarta (tanggal lahir 1 Juni 1956), anak keempat. Gusti Ayu Ketut Pancasari (11 Agustus 1958), anak kelima. Dan anak yang terakhir adalah anak keenam yaitu I Gusti Ayu Putu Inrani (tanggal lahir 17 Maret 1960). Istri kedua merupakan ibu tiri beliau yaitu Ni Made Kerti (Tahun lahir 1944) dari Kerambitan. Ibu Kerti memiliki dua orang anak yang sekaligus menjadi adik-adik tiri pak Bawa Samar Gantang. Mereka adalah Gusti Ayu Putu Muning Utari (tanggal lahir 7 Januari 1963) dan Gusti Made Adi Nurama (tanggal lahir 26 Desember 1965).
Pak Bawa Samar Gantang sendiri menikah dengan Gusti Ayu Made Susiati (tanggal lahir 2 April 1956). Keahliannya adalah bermain Perkusi dan Kendang.
Dari pernikahannya ini, beliau memiliki empat orang anak yaitu: I Gusti Ayu Putu Mahindu Dewi Purbarini (tanggal lahir tanggal lahir 28 Oktober 1977), I Gusti Made Mahindu Swara (tanggal lahir 8 Juni 1979), I Gusti Nengah Mahardika (tanggal lahir 17 Agustus 1983), dan I Gusti Ketut Adi Dewantara (tanggal lahir 2 Mei 1987).
Dari anak pertama, beliau dikaruniai seorang cucu bernama I Gede Wayan Premaria Prajna (tanggal lahir 19 November 2006). Lalu dari anak keduanya, beliau juga mendapat seorang cucu bernama Gusti Agung Ayu Putu Luna Iswari (tanggal lahir 30 Maret 2007). Sedangkan anak-anaknya yang lain belum menikah atau lebih tepatnya masih bujangan.

2. Kisah Cinta Samar Gantang “ Berawal dari Mimpi”
Saat itu, Samar Gantang muda masih duduk di bangku kuliah jurusan Sejarah (1974-1976). Perlu diketahui juga, ketika itu ia juga menjadi sutradara Festival Remaja sekaligus guru SMP.
Kejadiannya dimulai pada tahun 1976. Berawal dari sebuah mimpi yang diyakininya, dia dipertemukan dengan seorang gadis berusia 21 tahun di jalan Pande Tabanan. Gadis cantik yang tinggi semampai, rambut bergelombang, dengan senyumannya yang manis, membuat seorang Samar Gantang ‘Klepek-klepek’. Gadis ini menyapa,”Anak Agung, wawu ngeranjing ? (Anak Agung, baru sekolah ?)”. Pak Samar Gantang hanya menjawab,” Inggih..!(Ya!)”. Lalu beliau sontak kaget ketika melihat wajah gadis itu. Dalam hati dia berkata,” Bukannya, dia gadis yang ada dalam mimpi saya?”
Beliau mengingat sebuah mimpi yang dialaminya beberapa hari yang lalu. Beliau bermimpi bertemu dengan seorang gadis yang akan menjadi istrinya. Dan anehnya gadis itu mirip sekali dengan gadis cantik yang baru saja menyapanya. Memang sangat aneh dan sangat kebetulan. Beliau sempat bercerita mengenai mimpinya itu pada kakeknya yang merupakan seorang paranormal. Kakeknya hanya mengatakan bahwa gadis itu merupakan jodohnya kelak. Atas dasar itulah Pak Bawa Samar Gantang dengan sangat yakin berkata,”Dik, kamu adalah jodoh saya! Kelak, kamu akan jadi istri saya!” Gadis itu hanya tersenyum kemudian pergi. Dari informasi teman-temannya, pak Bawa Samar Gantang mengetahui nama gadis itu. Dialah I Gusti Ayu Made Susiati yang sering di panggil Sayu Susun
Beberapa hari berlalu, dia melihat gadis pujaannya dibonceng oleh laki-laki lain. Rasa cemburu berkobar dalam hati pak Samar Gantang. Lalu dia mencari informasi dari teman-teman kerjanya lagi. Mencari tahu siapa laki-laki itu dan dimana rumahnya. Tidak terlalu sulit untuk mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan itu. Laki-laki itu tinggal di Panjer, Denpasar. Kemudian beliau datang kesana, bertemu,dan langsung mengancam laki-laki itu. ’’Susiati itu, akan jadi istri saya ! Jangan mendekatinya lagi ! Kalau berani mendekatinya, saya akan hajar kamu ! Kalau perlu kita duel !’’ Laki-laki itu hanya menjawab, ’’ Ya… kalau mau, ambil saja. Masih banyak kok cewek diluar sana ! Saya janji tidak akan mendekatinya lagi !’’
Tapi sayangnya, laki-laki itu tidak tepati janjinya. Siswa-siswi kelas 3 SMP Harapan, yang merupakan anak didikan beliau, memberikan informasi. Mereka mengatakan bahwa laki-laki itu, membawa Susiati ke gedung bioskop di Kediri. Lalu pak Bawa Samar Gantang dan Siswa-siswi kelas 3 SMP Harapan mendatangi bioskop itu. 15 orang siswa-siswanya berjaga-jaga di parkiran dan menunggu datangnya Susiati dan laki-laki itu. Selang beberapa waktu, mereka pun muncul. Dengan tidak berbasa-basi lagi, beliau langsung menghajar laki-laki yang telah merebut calon istrinya. “ Susiati, kamu pilih saya atau dia?! Meskipun saya bukan pacar kamu, tapi mimpi saya mengatakan kamulah istri saya! Saya yakin itu! Saya ini guru, saya tidak bisa bermain-main. Umur saya sudah 30 tahun. Kalau kamu tidak suka pada saya, laporkan saya ke polisi dengan tuduhan sudah menghajar orang. Kalau kamu tertarik dengan saya, tiga hari lagi ada hari baik. Saya akan melarikan kamu!” Beliau langsung mengajak Susiati ke rumahnya di Kelating. Dan langsung bertemu orang tuanya, menjelaskan kalau beliau ingin memperistri Susiati.
Tanggapan orang tuanya sangat baik. Sekarang tergantung Susiatinya, apakah mau menjadi istri Samar Gantang atau tidak. Lalu pak Samar Gantang memberi pilihan. Kalau dia diam saja, berarti akan diadakan pesta pernikahan. Dan Susiati memilih tetap diam. Itu berarti dia telah setuju. Tentunya, pak Samar Gantang senang dengan hal itu. “Baik, tiga hari lagi, saya akan datang menjemput. ”kata Pak Samar Gantang. “Ya, terserah bapak.” lanjut orang tua Susiati.
Tiga hari kemudian, beliau bersama rombongan siswa-siswi kelas 3 SMP Harapan menunggu datangnya Susiati di jalan dekat rumahnya. Kebetulan pak Samar Gantang mempunyai saudara yang menjadi lurah di Dukuh yaitu Gusti Nyoman Dana. Dialah yang turut membantu dalam usaha melarikan Susiati. Lama menunggu datangnya Susiati, pak Bawa Samar Gantang mulai tidak sabar. Akhirnya beliau mendatangi rumahnya.
Hanya sunyi yang didapatinya di rumah itu. Susiati terlihat terlelap di Bale Gedenya. Pak Samar Gantang lalu membangunkannya dan langsung melarikannya dengan mobil Jimmy yang di kendarai oleh Gusti Nyoman Dana . Siswa-siswinya mengikuti dari belakang dengan membawa sepeda motor. Saat itu, masyarakat mengira mereka partai GOLKAR yang sedang berkampanye, padahal bukan.
Sesampainya di rumah Samar Gantang, tepat tanggal 27 September 1976 mereka pun menikah. Disaat pernikahan berlangsung, tiba-tiba datang 2 ekor Babi Guling, hadiah dari Kepala SMP 3 yaitu pak Wayan Surata. Tiga hari sebelum menikah, pak Bawa Samar Gantang dan pak Wayan Surata melakukan perjanjian. Jika pak Samar Gantang menikah, maka pak Wayan Surata akan membawakan 2 ekor babi Guling ke pesta pernikahannya. Padahal permintaan pertama pak Samar Gantang adalah sebuah Vespa tapi beliau tetap bersyukur karena pak Wayan Surata telah menepati janjinya.




Foto Putu Bawa Samar Gantang dengan sang istri, Gusti Ayu Susiati di Rumahnya. Jln Kenanga no.7 Tabanan

3. Perjalanan Karir & Berbagai Prestasi yang Pernah Diraih
I Gusti Bawa Samar Gantang memulai SR (Sekolah Rakyat) tahun 1955 di Pengabetan, Dauh Pala, Tabanan dan berakhir tahun 1963. Dari kecil beliau sangat suka membaca terutama melihat cerita bergambar. Saat kelas lima SR, beliau mempunyai lima rak buku komik. Sampai-sampai beliau membuka penyewaan komik pertama di Tabanan. Akan tetapi, karena pelajaran berhitung dan membaca, beliau tidak naik kelas. Beliau tertinggal 2 kali berturut-turut saat kelas satu dan kelas dua SR. Walaupun beliau suka membaca tapi buku bacaan yang sering beliau baca adalah buku bergambar. Di mana buku bergambar cenderung mengungkapkan suatu cerita dalam bentuk gambar bukan dalam bentuk tulisan.
Setelah kelas tiga SR, akhirnya beliau menjadi salah satu siswa yang terbaik di sekolahnya. Ketika beranjak SMP, dan bersekolah di SMP 1 (sekarang menjadi SMP Negeri 1 Tabanan) beliau pun mulai suka membaca buku sastra. Kesulitan dalam memahami sastra membuatnya tertarik untuk membaca buku-buku yang berbau sastra.
Pria yang sangat senang menonton tinju (yang berbau kekerasan), senam, dan film lucu terutama Mr.Bean ini pun mencoba membuat tulisan dan mengirimkannya ke Koran Solo Marhen. Sayangnya, keberuntungan tidak berpihak pada pak Bawa Samar Gantang. Berkali-kali beliau mengirimkan tulisannya ke koran itu, namun tidak pernah dimuat. Walaupun begitu pak Bawa Samar Gantang tidak menyerah dan terus berusaha hingga akhirnya tulisannya berhasil termuat dalam koran tersebut. Ketika itu beliau sudah masuk SMA tahun pelajaran 1967-1968 di SMAN 1 (sekarang SMAN 1 Tabanan). Sangat puas dan bangga, itulah perasaannya saat itu.
10 kali melamar menjadi seorang guru negeri di beberapa sekolah, pernah dialami oleh seorang Samar Gantang, Dengan sedikit menguras keringat akhirnya tahun 1973 beliau diterima di SMP Harapan menjadi seorang guru honorer. Beliau juga mengajar di beberapa sekolah lain di Tabanan antara lain, SMP TP 45 (sudah tidak ada), SMPN 3, SMP Pemuda, SMP Dharma Bhakti (sejak 1973), SMPN 2 Tabanan.
Pada tahun 1974, beliau menjadi guru tetap di SMP Negeri 2 Tabanan. Sejak menjadi guru di beberapa Sekolah Menengah Pertama (SMP) swasta di Tabanan tahun 1973, Samar Gantang mengajar mata pelajaran seni lukis. Bersama dengan Pak Windra Dusak (sekarang guru Bahasa Indonesia SMAN 1 Tabanan) beliau melanjutkan kuliahnya ke jurusan Sastra Indonesia (1991). Namun setelah meraih gelar Sarjana Sastra dari IKIP Saraswati Tabanan tahun 1997, beliau yang sejak dulu dikenal sebagai seniman sastra tidak pernah menjadi guru Bahasa dan Sastra Indonesia. Hal tersebut dikarenakan sudah ada banyak guru Bahasa dan Sastra, makanya beliau tetap mengajar seni lukis. Beliau mengaku mulai menggeluti bidang seni dari tahun 1967-an.
Beliau yang lebih dari 1ima puluh tahun mengendarai sepeda Jengki tuanya, sangat gemar melukis. Oleh karena itu, beliau memilih menjadi guru lukis. Sementara minatnya dibidang seni pentas dialihkan ke dunia baca puisi untuk kegiatan ekstrakulikuler. Samar Gantang justru membina kegiatan sastra dan drama diberbagai SMP/SMA Tabanan. Samar Gantang sangat aktif di Lesiba (Lembaga Seniman Indonesia Bali) yang dipimpin oleh dosen Sastra Indonesia Unud, Drs. I Made Sukada,S.U.
Kegiatan utama Lesiba adalah melaksanakan apresiasi sastra, seperti membaca puisi di radio-radio dan menerbitkan buku sastra, kebanyakan kumpulan puisi. Samar Gantang dikenal sebagai pembaca puisi nyentrik, baik di radio maupun dipanggung penampilannya total, penuh gerak-gerik, percaya diri sehingga tampak lain dari yang lain. Apabila beliau membaca puisi modre, jenis puisi dengan pengaruh mantra Bali, Samar Gantang kerap kali tampil seperti orang kesurupan, memukau dan menimbulkan kesan ngeri.
Tahun 1973 hingga 1983 dia juga sibuk mengisi acara apresiasi sastra di Radio Menara bersama kelompok Lesiba (Lembaga Seniman Indonesia Bali) pimpinan I Made Sukada, Radio Casanova, dan Radio Republik Indonesia (RRI). "Hari Sabtu saya berangkat naik sepeda, hari Minggu kembali ke Tabanan," kata pria yang hingga kini tetap setia mengayuh sepeda dayung itu. Pada masa-masa itu kumpulan sajaknya Aab Jagad (Kondisi Jagad) mendapat penghargaan dari majalah tentang kebudayaan Bali Sarad. Sebagai penggila dan penggiat sastra, Samar Gantang memiliki keprihatinan mendalam. "Bagaimana kemampuan anak-anak bisa berkembang, kalau hanya pelajaran akademis yang diprioritaskan, yang isinya hafalan," katanya. "Bagaimana mau mengajarkan sastra, kalau gurunya tidak pernah membaca karya sastra, hanya mengajar secara verbal saja."
Gaya Samar Gantang membaca puisi inilah yang kemudian memikat penyair Taufik Ismail, untuk memilihnya menjadi anggota Tim Penyusunan buku pelajaran sastra untuk sekolah tahun 2002/2003. Lewat surat yang dikirim Pak Bawa kepada Pak Taufik Ismail menjadi perkenalan awal mereka. Isi surat tersebut yaitu, beliau meminta materi penelitian sehubungan dengan skiripsi yang terkait dengan karya Taufik Ismail (puisi).
Kisahnya, pada tahun 1999, Sanggar Dewata mengundang Samar Gantang mengisi acara pada Performing Arts di Galeri Nasional di Jakarta. Taufik Ismail terkesan akan gaya Samar Gantang dalam membaca puisi. Taufik menyarankannya untuk mengikuti kegiatan MMAS (Membaca Menulis Apresiasi Sastra) seluruh Indonesia yang akan digelar di Mataram. Acara ini dikhususkan untuk guru-guru. Samar Gantang mengikuti acara MMAS bersama 29 guru dari Bali. Selain itu, beliau juga pernah membaca puisi di Radio Global lewat telepon yang diiringi oleh anak beliau yang sekolah di STSI dengan nyanyian. Gara-gara senang membaca puisi lewat telpon, beliau pernah harus membayar telepon sebesar Rp. 600.000,-.
Rumahnya di Tabanan menjadi perpustakaan yang menerima sumbangan buku sastra terbitan Horison dan rutin menerima secara gratis majalah sastra Horison. Samar Gantang dinilai aktif membina sastra untuk kalangan siswa. Kenyataan bahwa tahun 2003 ini Samar Gantang dianugerahi hadiah Sastra Rancage atas jasanya membina sastra Bali modern antara lain setelah menerbitkan lima buku dalam dua tahun terakhir, menunjukkan bahwa Samar Gantang tak hanya aktif dalam sastra Indonesia tetapi juga dalam sastra Bali.
Karya-karya yang telah dihasilkan oleh beliau antara lain :
1. Kumpulan puisi “Hujan Tengah Malam” (penerbit : LESIBA(Lembaga Seniman Indonesia Bali)) dibuat tahun 1969, terbit tahun 1974
2. Kumpulan Puisi “Kisah Sebuah Kota Pelangi” (penerbit : LESIBA(Lembaga Seniman Indonesia Bali)) tahun 1976
3. Kumpulan Puisi “ Kabut Abadi di Bedugul” (1979) (penerbit : LESIBA(Lembaga Seniman Indonesia Bali))
4. Kumpulan Puisi “Kalender Puisi Bali” (1980) (penerbit : LESIBA(Lembaga Seniman Indonesia Bali))
5. Kumpulan Puisi “Kalender Puisi Bali bagian 2” (1981) (penerbit : LESIBA(Lembaga Seniman Indonesia Bali))
6. Kumpulan Puisi “Laut Bernyanyi” (1982) (penerbit : LESIBA(Lembaga Seniman Indonesia Bali))
7. Kumpulan Puisi “Wiyata Mandala Jogya” (1983)
8. Kumpulan Puisi “Angin Senja” (1985)
9. Kumpulan Puisi “Pada Matahari Tumpah Ratap” (1986)
10. Kumpulan Puisi “Dewa-Dewa Marahlah” (1987)
11. Kumpulan Puisi “Spektrum” (1988)
12. “Kidung Dewata” (pernah meraih juara I di Komindo Jakarta) (1989)
13. “Taksu” (penerbit : Sanggar Minum Kopi) (1990)
14. “Loka Bintara” (penerbit Kantor Post di Jakarta) (1991)
15. “Kebangkitan I-VI” (penerbit Batu Malang) (1992-1996)
16. Kumpulan Cerpen “Sang Bayu Telah Mengiringi Kepergiannya” (1997)
17. Esai “Bali Sane Bali” (Juara I di Balai Bahasa Denpasar) (1998)
18. Kumpulan Geguritan “Aruh Hari Hara” (Juara I di Prama Sastra Denpasar) (1999)
19. Kumpulan Cerpen “Gatra Saking Welington” (Juara I di Prama Sastra Denpasar) (2000)
20. Kumpulan Puisi “Aab Jagad” (Juara I diselenggarakan Majalah Sarad) (2001)
21. Kumpulan Puisi “Somyo” (Diterbitkan Canang Sari) (2002)
22. Kumpulan Cerpen “Sipta Durmanggala” (12 Oktober 2002) terinspirasi dari Bom Bali I
23. Kumpulan Puisi “Sagung Wah” (Diterbitkan Canang sari) (2003)
24. Kumpulan Cerpen “Macan Raden “ (2003)
25. “Modre Samar Gantang” (Maha bintang dalam festival Indonesi-Amerika) (2003)
26. “Aungi Ring Hotel Sentral” (Mendapat penghargaan Ranchage) (2004)
27. Kumpulan cerpen “Leak Rare” (2004)
28. Kumpulan Cerpen “Kidung Dewata Dalam Berkah Gusti” (2004)
29. Kumpulan Cerpen “Leak Bukit Pecatu” (2005) (Denpasar : Balai Pustaka)
30. Novel “Leak Satak Dukuh” (2006)
31. Novel “Ketika Tuhan Menyapaku” (2007)
32. Novel “Dipuncakmu Aku Bertemu” (2008)
Prestasi yang pernah diraih oleh I Gusti Putu Bawa Samar Gantang antara lain:
1. Italian Art (1983)
2. Satya Lencana dari Gus Dur (2000)
3. Aab Jagad (2001)
4. Rancage (2003)

Di bawah ini adalah salah satu puisi karya I Gusti Bawa Samar Gantang yang pernah dibacakan dalam acara Ubud Writers and Readers Festival.
AKU SUKA SAKU

Aku suka saku aku suka susu asu
Matematika sembilan
Hutan terbakar
Banjir bandang di mana-mana
Bahasa Indonesiaku sembilan
Bahasa tanah dianak tirikan
Bahasa air sara di mana-mana
Bahasa Inggris sembilan
Bahasa linggis pariwisata
Bahasa teroris di mana-mana
Agama sembilan dipolitikkan
Sejarah budaya diputar balikan
Korupsi makmur budipekerti di mana?
Olah raga kesenian sembilan diabaikan
Komentator sepak bola juara dunia
Silat tinju merebak di mana-mana
Aku suka saku aku suka nyali tikus
Ngomong pembangunan segala bidang
Rongrong kropos tiang kemakmuran Negara

4. Cita-Cita dan Obsesi Seorang Samar Gantang
Lugu, sederhana, namun mengesankan, Itulah I Gusti Putu Bawa Samar Gantang yang enak diajak mengobrol. Kadang bergerak seperti menari, kadang dia bersuara seperti mekidung (membaca kidung) dengan nada khas seperti biasa kita dengar dari balik pintu pura di Bali.
Semua itu akan lebih lengkap kalau kita sempat menonton pementasan karya puisinya, atau menikmati pembacaan puisi para remaja asuhannya di Sanggar Sastra Remaja Indonesia (SRI) di Tabanan. Puisi itu tampil bukan hanya lewat vokal, tapi juga gerak tari. Kata-kata menjadi lebih hidup dengan iringan kendang, seruling, dan sejumlah perangkat gamelan Bali. Puluhan remaja itu setiap hari Minggu berlatih laku seni di SRI yang bertempat di rumah Samar Gantang.
Sejak tahun 1960-an Samar Gantang sudah menulis, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Bali, dengan latar sejarah lokal Bali. Beliau ini banyak menuliskan puisi mantra-yang penuh simbol-simbol tradisi Bali-yang dia bawakan dengan cara yang khas. Membaca puisi bagi Samar Gantang bisa masuk ke dalam kondisi ‘trance’ ( Keadaan mabuk, Kerasukan).
Dalam usia 21 tahun, Samar Gantang merajut cita-cita menjadi bintang film. "Saya terinspirasi oleh Fifi Young, Bambang Hermanto, dan Sofia WD," tuturnya. Namun, kerasnya Ibu Kota membuatnya menangis. Ketika itulah tercipta puisinya Berjalanlah Terus-yang melukiskan perjuangannya saat itu. Tahun 1970-an dia sempat bersekolah di Jakarta, tetapi tiba-tiba disuruh pulang, katanya ibunya sakit keras. Setelah pulang, wanita yang melahirkannya ternyata sehat. Akhirnya dia menetap di Bali dan melupakan cita-cita menjadi bintang film.
Samar Gantang pernah diundang membaca puisi di Malaysia pada pertengahan tahun 1980-an. Dia punya satu obsesi yang masih mengganggunya, yaitu mendapat kesempatan untuk unjuk kebolehan. Membaca puisi, memberi makna pada aksara, sesuai dengan latar belakang budaya yang dia hayati.
Di sanggar dia menerapkan metode pengajaran "99 % praktek, 1% teori". "Mereka boleh membuat apa saja yang mereka suka. Saya biarkan mereka berkreasi secara liar," katanya.
Dia lalu berpikir, bagaimana caranya membuat seseorang "maniak" sastra. Dia lalu menunjukkan ke anak-anak itu bagaimana cara membaca puisi dan menulis puisi. "Segala kemampuan yang saya dapatkan di pelatihan saya curahkan," ujarnya. Hasilnya telah ditampilkan anak-anak anggota SRI di berbagai lomba / event di Bali dan daerah lain. Anggota SRI juga sering menyabet penghargaan pembacaan puisi di Pekan Kesenian Bali yang digelar tahunan. Puisi pertama karyanya yang sering ditampilkan berjudul Baca Tulis Bicara.Mengabdikan hidupnya untuk membina anak remaja melalui sastra, Samar Gantang juga memperkenalkan modre (membaca mantra-Red) lewat aksara bermakna. Sepanjang wawancara, sesekali Samar Gantang menunjukkan gaya membaca puisi seperti membaca mantra. "Cara saya berbeda," tuturnya disusul praktik. Suara-suara keras-pelan-tinggi-rendah, kadang seperti menggeram. Seperti tanpa makna namun berkekuatan magis. Itulah sosok Samar Gantang.

Belajar dari kisah hidup Pak Samar Gantang ini, kami selaku peneliti berkesimpulan bahwa tekad, bakat, dan kerja keras akan membawa kita pada suatu keberhasilan. Seperti I Gusti Putu Bawa Samar Gantang yang menjadi objek penulisan kami. Beliau memiliki keinginan kuat untuk maju,maju dan terus maju. Dengan usahanya beliau berhasil mendapatkan berbagai penghargaan dari dalam maupun luar negeri. Menurutnya, betapun sulit meraih suatu keberhasilan tetapi dengan kerja keras dan ketekunan, kita pun bisa meraih kesuksesan seperti beliau. Walaupun seorang Samar Gantang sudah semakin tua, semakin berumur, namun dia masih bertekad untuk melakukan sesuatu hal yang membuat hidupnya lebih berarti. Begitulah sosok Samar Gantang yang patut kita banggakan. Melalui tulisan ini kami berharap para pembaca dapat memetik hikmah dari biografi singkat Bawa Samar Gantang dan ada yang mau mengikuti jejak beliau dalam rangka melestarikan budaya Nasional sekaligus budaya daerah yang sangat kita banggakan.


DAFTAR PUSTAKA


Anonim. 2005. Obsesi Samar Gantang. http://64.203.71.11/kompas-cetak/0502/05/naper/1512835.htm. (access 4 Juni 2008)
Anonim. 2003. Samar Gantang, Cita-cita Sebetulnya Jadi Bintang Film. http://www.balipost.com/balipostcetak/2003/2/16/pot2.htm. (access 4 Juni 2008).
Anonim. 2003. I Gusti Putu Bawa Samar Gantang:Pengajaran Bahasa Bali harus Di mulai dengan Huruf Bali. http://www.balipost.com/balipostcetak/2003/2/16/pot1.html.( access 4 Juni 2008).
Anonim. 2005. Penyair Bali pun Unjuk Gigi. http://wartabali.com/index/article/1657.htm. (access 4 Juni 2008).

Anonim. 2002. Sastrawan Bicara, (Guru) Siswa Boleh Bertanya. Kompas, 8 Agustus.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Ni Putu Juliasih
TTL : Marga, 20 Juli 1991
Alamat : Br. Semingan, Petiga, Marga, Tabanan
Status : Siswi XI IPS 2, SMAN 1 Tabanan
Alamat Sekolah : Jalan Gunung Agung No. 122 Tabanan, Telp. (0361)
811164.

Penghargaan :

1. Peserta Lomba Mengarang Bahasa Indonesia siswa SMP dan MTS
Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Dirjen Manajemen
Pendidikan Dasar dan Menengah.
2. Juara 3 Menulis Surat SD, SMP, SMA Kabupaten Tabanan Tahun
2005. Diselenggarakan Dinas Pendidikan Kabupaten Tabanan.
3. Peserta Lomba Karya Ilmiah Tingkat SMA se-Propinsi Bali yang
diselenggarakan Universitas Pendidikan Ganesha.
4. Peserta Lomba Menggambar Komik Tingkat SMP, SMA se-Bali
yang diselenggarakan oleh New Media Interaktive Computer College.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Gusti Ayu Asita Ananta
TTL : Tabanan, 23 Agustus 1991
Alamat : Bongan Kauh, Tabanan
Status : Siswi XI IPS 2, SMAN 1 Tabanan
Alamat Sekolah : Jalan Gunung Agung No. 122 Tabanan, Telp. (0361)
811164.


Penghargaan :
Peserta kegiatan Jumpa Bakti Gembira ( JUMBARA) Palang Merah Remaja Cabang III Palang Merah Remaja Palang Merah Indonesia Cabang Tabanan yang dilaksanakan di Sos Desa Taruna, Desa Bantas, Kecamatan Selemadeg Timur, Kabupaten Tabanan.


DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Putu Eka Darma Jayanti
TTL : Penganggahan, 18 Januari 1991
Alamat : Penganggahan, Tengkudak, Penebel, Tabanan.
Status : Siswi XI IPS 2, SMAN 1 Tabanan
Alamat Sekolah : Jalan Gunung Agung No. 122 Tabanan, Telp. (0361)
811164.

Penghargaan :
Peserta Gema Lomba Matematika (GLM) tingkat SMP VII Se-Bali Tahun 2006 yang diselenggarakan oleh IKIP Negeri Singaraja.

Minggu, 20 September 2009


Sewaktu kelas 6 SD, gue uda kenal yang namanya ‘Monkey love’ atau cinta monyet. Malahan uda pernah pacaran pula. Tapi gaya pacaran gue enggak seperti yang loe pikirin. Iyah palingan kita main bareng, ketawa-tawa bareng, mandi bareng ampe berak pun pernah bareng ! Pokoknya apa-apa bareng aja! ( kayaknya lebih mirib anak kembar siam deh dari pada orang pacaran.)
Sebenarnya gue enggak ngerti, kenapa bisa ngiyain aja ajakan temen sepermainan gue untuk pacaran. Waktu itu, gue juga masih lugu banget atau lebih tepatnya disebut anak yang udah bego tapi masih dibego-begoin temennya (wah sungguh tragis). Gue kirain pacaran itu sejenis permainan. Ya udah, Gue ikut aja permaianannya. Cara mainnya pun gampang and kayaknya seru. Peraturannya pun simpel-simpel aja. Kita hanya perlu pegangan tangan, jalan bareng dan main bareng. Gampang ‘kan?!
Pernah suatu hari, dia (yah sebut saja Eko) mau ngapel kerumah gue. Tapi karena takut, eko pun ngasi surat ke gue lewat perantara Iwang ( dia ini makjomblang kita). Waktu itu ‘kan jaman jadul, belum kenal alat canggih yang namanya HP. Jadilah kita masih menggunakan alat kuno itu.
Tapi celakanya, gue enggak ngerti isi surat yang di kasi Iwang itu. Yang gue liat hanya ceker-ceker ayam lengkap dengan cacingnya terpampang dalam kertas itu. “Alamak, Eko! Elo tu kalo mau ngirim surat ke gue, belajar nulis dulu napa sie!” keluh gue dalam hati. Gue berusaha baca tow surat, tapi enggak berhasil-berhasil juga. Ya tuhan! Kenapa Engkau memberi cobaan ini. Gue jungkir-balikan tow surat, malah tambah enggak bisa di baca (yaiyalah, dasar orang aneh!). Dari berbagai sudut, dari berbagai sisi, gue mencoba memahami isi surat itu (ceile bahasanya udah kayak guru matematika aja!) tapi tetep aja, ENGGAK BISA DI BACA.
Akhirnya gue buang aja.
Plung..!
Tepat masuk ke tong sampah. Lalu gue ngeloyor pergi, ngiraiin tuw surat udah enggak penting, udah bikin gue pusing!
TE-TA-PI……. (tulisannya gue gedein untuk efek dramatisir).
You know what?!!
Eh ternyata dalam surat itu si Eko mau ngajain gue ketemuan di gang samping rumah gue jam 7 malem. Dari jam 6 dia udah nongkrong disana nungguin gue. Ya ampun enggak ada kerjaan tu anak, pikir gue. Sampe jam 8 malem dia nungguin gue, tapi karena berhubung gue enggak tahu!
Ya..
Mau di tunggu ampe dunia kiamat pun, gue enggak bakalan dateng. Aduh!Maafin tangan jahanam gue yang uda ngebuang surat wasiat loe tow, darling! Gue beneran enggak tahu-tempe!
Mungkin karena bete nunggu lama, si Eko pun memulai aksinya dengan beberapa langkah di bawah ini:
Number one. Mendekati rumah gue dengan mengendap-endap dan menuju jendela kamar gue yang dihalangi tembok tinggi. (bayangin saat maling sedang beraksi dan diiringi musik James bon)
Number two. Memanggil nama gue 3 kali, tapi pelan-pelan dan berbisik dengan tujuan memancing gue untuk keluar rumah. (mana gue denger, gue ‘kan rada budek. Dia juga salah kamar pula! Itu ‘kan kamar kakek gue!!)
The last number. Manjat pager tembok rumah gue yang lumayan tinggi (buset dah, kayaknya si Eko nie anak haramnya si tarzan ama monyet dah).
But
Gugukku, memergoki aksinya. Mission GATOT! (gagal total)
Ya terang aja anjing kesayangan gue tuw langsung menyergap bokongnya yang empuk.
Aeeengrrr, guk!guk!’
Gue kaget and langsung nyamperin dia. Eh enggak tahunya kakek gue uda kedapetan bawa parang dan kayaknya siap-siap nebas si Eko yang dikirain mau nyolong mangga.
Ampun deh!
Si Eko pun langsung lari terpirit-birit, terkentut-kentut, terkencing-kencing saking takutnya. Waduh, ko… nasib loe tu, ya uda lah lupain.
Keesokannya dia enggak ngomong ama gue. Iya gue bisa maklumin itu. Secara, dia pasti shock banget dengan kejadian kemarin. Selama beberapa minggu kita diem-dieman terus. Waduh kayaknya dia udah ilfil nie ama gue. Jangan dung, DARL ING!
Kita diem-dieman ampe gue masuk kelas dua SMP (aji gile lama banget ya!) . Tapi karena dia adalah anak yang kurang mampu, alhasil dia enggak bisa ngelanjutin sekolah ampe SMP. Akhirnya kita enggak pernah ketemu lagi semenjak itu. Walaupun kita satu desa tapi beda dusun, tetep aja jarang ketemu. Informasi terakhir yang gue denger sie, dia jadi pekerja kasar di Denpasar. (Ya ampun..)
Sampe hari Valentine tahun 2004 pun datang. .
Beberapa bungkus beng-beng beserta temen-temennya yang terbungkus dalam satu wadah kresek item, mampir ke meja gue. “Apaan nie, wang?” tanya gue pada bekas makjomblang gue. “Nie ada titipan tow dari si Eko!” jawabnya sambil nyengir kuda. “Titipan dari Eko?” alis gue langsung naik. “Ngapain si Eko ngasi gue beng-beng”, pikir gue. “ Ya uda deh, bilang aja makasih” lanjut gue dengan tampang bego, and enggak percaya. Gue masih agak susah mencerna kejadian yang gue alamin barusan. Oh God!
Sampe rumah, gue masih aja merasa takjub dengan peristiwa ajaib tadi pagi. “ Apaan tu, sayang?” tanya nyokap gue, memecah lamunan gue. “Ow, i..i.. ini titipan dari Eko, buk!” jawab gue gugup. “Eko? Apa kabarnya dia sekarang? Tadi ibu sempet ketemu ama ibunya Eko. Katanya dia kerja di Denpasar lo!” cerocos nyokap gue. “Udah tau…” kata gue enggak peduli.
Eh tahu enggak, ibu juga udah minta Eko untuk jadi suamii kamu kelak lo sayang. Kata ibunya sih, Eko mau *nyentane kesini!”
(*nyentane; baca aja ‘e’nya kayak ‘e’ dalam kata organisme yang *artinya pihak suami tinggal di rumah si istri dimana untuk selanjutnya menggunakan garis keturunan si istri)
What???!!!
Jantung gue berhenti untuk beberapa detik…
Kenapa nyokap gue bisa berpikir ampe sejauh itu sie. Umur gue ‘kan baru aja 14 tahun! Ngapain uda di suruh nikah. (nikah?!! No way!!) Aneh-aneh aja nih nyokap gue. Oya untuk pemberitahuan aja, nyokap gue juga adalah salah satu orang yang ikut-ikutan nyomblangin gue ama si Eko. Makanya, nyokap gue bisa punya rencana yang lumayan bikin gue shock kayak tadi. Nyokap gue itu pengen banget jadiin si Eko mantunya. Gimana gue enggak strees coba!
Balik ke masalah Eko. Udah lama gue enggak ketemu dia lagi. Apa dia masih cengengesan kayak dulu ya? Kadang-kadang gue sering ilfil kalau dia uda mulai cengengesan kayak gitu.
Eits, gue baru nyadar hari ini ‘kan valentine day. Ah pantesan dia ngasi coklat bejibun ! Tapi kok bungkusnya kayak gini ya? Kresek item? Niatnya mau ngasi kado ato belanjaan nie? Enggak ada romantis-romantisnya. Walaupun dua tahun udah berlalu, ternyata loe enggak lupa kalau hari ini adalah valentine’s day. Yah! Gue tetep bilang thanks aja… Dimanapun loe berada. Thanks coklat beng-bengnya! Hehe….

Minggu, 06 September 2009

bab2



nah ini liat dengan seksama, muka-muka sok narzis ini.. mantep kan gaya-gayanya? ini diambil pas dosen enggak ada. n' hari itu jadi kuliah kita yang bertama..